Kampung Adat Bena, Wisata Ke Desa Tertua di Bajawa, Flores

Kampung Adat Bena – Sudah pernah liburan ke Labuan Bajo Flores.? Coba alternative lainnya yaitu wisata ke kampung adat. Tidak jauh dari Wae Rebo, terdapat kampung adat tertua yang ada di Flores yang bernama Kampung Bena.

Kampung Adat Bena
IG : @liburankemanaya

Kamu tidak hanya akan melihat pemandangan alam yang asri, namun juga rumah dan penduduk asli di kampung tertua tersebut. Penasaran dengan kampung adat ini? Simak ulasannya berikut ini.

Daya Tarik dan Aktivitas Wisata di Kampung Adat Bena

Kampung adat ini berada di kaki Gunung Inerie dan masih mempertahankan kontur asli tanah. Jadi selain keindahan alam pemandangan sekitar perkampungan, di Bena sendiri memiliki daya tarik seperti bentuk rumah, tatanan perkampungan hingga penduduk Bena.

Di ujung kampung, terdapat patung Bunda Maria di bukit kecil. Bukit tersebut dipergunakan untuk titik kumpul masyarakat untuk beribadah dan berdoa.

Patung tersebut ada di tengah bebatuan yang ditata menyerupai gua. Di sekeliling gua atau bebatuan tersebut juga dikelilingi dengan batu-batu besar.

Jika dilihat di depan atau muka rumah penduduk terdapat pula bebatuan besar yang ujungnya runcing. Batu tersebutlah yang menjadi simbol pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Keunikan tersebut membuat Anda bisa mengabadikan momen bersama dengan penduduk setempat ataupun membeli hasil tenun penduduk.

Di ujung utara terdapat Ture Bupati atau kursi persidangan. Kursi tersebut hanya boleh diduduki oleh ketua suku ketika sedang memecahkan permasalahan di lingkungan kampung adat Bena.

Lokasi

Kampung adat Bena merupakan perkampungan megalitikum yang memanjang dari utara ke selatan dan terkenal karena memegang teguh tradisi nenek moyang. Para penduduk kampung bahkan masih meyakini adanya keberadaan dewa Yeta yang ada di Gunung. Dewa tersebutlah yang diyakini melindungi kampung adat Bena.

Harga Sewa Kapal di Labuan Bajo

Lokasi kampung Bena yaitu di Desa Tiworiwu, Aimere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kampung yang ada di 19 km sebelah selatan dari Bajawa ini berada di puncak bukit. Jadi ketika kamu sampai ke Kampung adat ini, kamu akan melihat pemandangan yang asri Gunung Inerie (2.245 mdpl).

Sejarah dan Penduduk Kampung Bena

Kampung adat Bena Flores sudah ada sejak 1.200 tahun yang lalu. Hingga saat ini, para penduduk di kampung tersebut masih mempertahankan budaya dan adat sejak dahulu kala.

Kampung yang berada di timur Wae Rebo ini dihuni oleh 9 suku yang hidup rukun. Suku yang tinggal di sini adalah:

  1. Suku Bena.
  2. Suku Dizi.
  3. Suku Dizi Azi.
  4. Suku Deru Lalulewa.
  5. Suku Wahto.
  6. Suku Ngada.
  7. Suku Deru Solamae.
  8. Suku Ago.
  9. Suku Khopa.

Awalnya hanya ada klan Bena kemudian terjadi perkawinan dengan suku yang lain sehingga menghasilkan klan yang lain. Hingga saat ini, suku Bena dan suku baru tersebutlah yang menghuni kampung adat dengan sistem kekerabatan matriarkat.

Ada pembeda antara suku yang satu dengan yang lainnya yaitu dalam 1 tingkat ketinggian hanya ada 1 suku saja. Jadi ada 9 tingkatan yang dihuni oleh masing-masing suku. Sebagai suku paling tua dan pendiri kampung, suku Bena berada di tengah-tengah.

Para penduduk Kampung Bena sebagian besar bekerja sebagai petani. Hasil utama pertanian adalah jagung, kacang-kacangan dan umbi-umbian. Penduduk di kampung ini juga memiliki kebun dan diantaranya adalah kebun kopi dan kemiri yang tumbuh subur karena berada di kaki Gunung Inerie.

Hasil perkebunan kopi tersebut kemudian diolah dengan cara tradisional. Kalau kamu penasaran, kamu bisa mencoba mencicipi kopi khas Bena. Namun hati-hati ya, karena kopi Bena ini memiliki tingkat keasaman tinggi.

Jika para pria bekerja di ladang atau sawah, sebagian penduduk perempuan bekerja dengan menenun kain. Tenunan tersebut kemudian dijual ke wisatawan yang datang ke desa adat ini. Harga baju atau kain tenun tersebut memiliki harga sekitar Rp 75.000 hingga jutaan rupiah per buahnya.

Tidak mengherankan jika harga pakaian atau kain tenun tersebut. Ini karena bahan yang dipergunakan adalah bahan yang alami dan cara pengerjaan yang dilakukan secara manual.

Bangunan dan Arsitektur Rumah Adat

Kampung adat ini memiliki 45 buah rumah. Jika dilihat dari atas, bentuk perkampungan ini menyerupai perahu yang dikaitkan dengan simbol budaya. Menurut kepercayaan megalitikum, perahu merupakan transportasi untuk mengantarkan arwah menuju ke tempat tinggalnya.

Walaupun begitu, nilai yang tercermin dari bentuk perahu tersebut adalah sifat gotong royong, kerjasama dan kerja keras. Sifat tersebut seperti yang ditunjukkan oleh leluhur Bena. Mulai dari ketika menaklukkan alam, mengarungi samudra hingga akhirnya tiba di Bena.

Arsitektur rumah Kampung Bena masih terjaga dan sangat tradisional. Rumah tradisional yang ada di kampung adat ini menggunakan alang-alang sebagai atapnya. Untuk bagian lantainya, penduduk menggunakan perpaduan batu gunung yang konon merupakan sisa peradaban megalitikum.

Sisa peradaban yang masih tertinggal hingga saat ini membuat penduduk di kampung adat ini menghormati alam dan juga leluhur. Bahkan masyarakat Bena begitu menghormati hewan dan batu karena menganggap merupakan bagian dari kehidupan.

Walaupun begitu, di depan rumah tidak hanya terdapat bebatuan runcing namun juga tanduk kerbau dan taring babi sebagai penanda status sosial.

Ada salah satu rumah dengan boneka orang-orangan atau sakabolo. Rumah tersebut adalah rumah dari kepala suku dari kampung adat Bena.

Di Kampung adat Bena Flores NTT terdapat bangunan yang disebut dengan bhaga dan ngadhu di tengah kampung. Bhaga merupakan pondok kecil tanpa penghuni.

Sedangkan ngadhu sendiri merupakan bangunan dengan tiang tunggal dan menggunakan atap serat ijuk.Ngadhu yang memiliki bentuk seperti pondek peneduh ini menggunakan kayu khusus yang keras. Fungsi dari tiang ini adalah untuk tiang gantungan hewan kurban ketika diselenggarakan pesta adat.

Fasilitas dan Akses ke Kampung Bena

Keunikan dari Kampung Bena adalah kamu bisa menginap di rumah – rumah adat milik penduduk asli di sana. Meskipun dengan fasilitas seadanya seperti tidur di lantai, kamu akan dijamu selayaknya tamu. Mereka akan menyiapkan makanan dan minuman selama kamu menginap di sana.

Selain itu, di sini juga disediakan kamar mandi yang layak untuk kamu mandi dan BAB.

Jadi, sebelum ke Kampung Adat Bena, kamu harus menyiapkan fisik yang kuat lebih dahulu dan bekal. Ini karena kamu akan melewati jalanan yang licin dan berlumpur setelah hujan, dan melewati hutan serta pegunungan. Tanjakan dan turunan serta kelokan yang ekstrim harus kamu lalui sebelum sampai di Bena.

Untuk melewati jalanan tersebut, kamu harus ke Kupang lebih dahulu kemudian ke Bajawa. Dari Bajawa, butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di Bena menggunakan ojek.

Waktu Kunjung Kampung Bena

Jika kamu berminat atau sedang merencanakan liburan ke Kampung Bena Flores, kamu harus memperhatikan jam kunjung. Kamu bisa datang pukul 08.00-17.00 WITA.

Sebelum masuk, kamu akan dikalungi selendang sebagai simbol jika kamu sudah memasuki kampung adat tersebut. Namun sebelumnya, kamu akan dikenai karcis sebesar Rp 20.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 25.000 untuk wisatawan asing.

Cukup murah bukan untuk masuk ke Kampung Adat Bena. Namun, alangkah baiknya kalau kamu menyiapkan dana yang lebih besar untuk mengantisipasi hal lainnya. Jadi, kamu bisa merencanakan liburan panjang setelah masa pandemic ke Kampung Bena ya.